Cek Diri Kamu: Apakah Tidur Kamu Sehat?
Banyak orang merasa sudah tidur cukup, tetapi tetap bangun dalam keadaan lelah. Ada juga yang sering mengantuk di siang hari meski tidur malamnya terlihat panjang. Kondisi ini sering dianggap wajar akibat kesibukan atau stres, padahal bisa menjadi tanda bahwa kualitas tidur tidak sebaik yang dirasakan.
Tidur yang sehat bukan hanya tentang berapa lama kita tidur, tetapi bagaimana tubuh bernapas dan beristirahat selama tidur tersebut.
Apa yang Dimaksud dengan Tidur Sehat
Tidur sehat adalah kondisi ketika tubuh dapat beristirahat dengan baik tanpa gangguan pernapasan, sering terbangun, atau kekurangan oksigen. Saat tidur sehat, napas berlangsung lancar, otak mendapatkan istirahat yang cukup, dan tubuh menjalani proses pemulihan alami.
Sebaliknya, bila terjadi gangguan napas saat tidur, tubuh akan berulang kali “terbangun” secara mikro tanpa disadari. Hal ini menyebabkan tidur terasa tidak menyegarkan meski durasinya cukup.
Tanda Tidur Tidak Sehat yang Sering Diabaikan
Banyak orang tidak menyadari bahwa tidurnya bermasalah. Beberapa tanda yang sering muncul antara lain mengorok keras, sering terbangun di malam hari, sakit kepala saat bangun pagi, serta rasa mengantuk berlebihan di siang hari.
Pada sebagian orang, pasangan tidur justru lebih dulu menyadari adanya masalah, seperti napas yang berhenti sesaat atau mendengkur tidak teratur. Gejala-gejala ini sering berkaitan dengan obstructive sleep apnea atau OSA, yaitu gangguan napas saat tidur yang cukup sering terjadi tetapi kerap tidak terdiagnosis.
Mengapa Kualitas Tidur Sangat Berpengaruh pada Kesehatan
Penelitian menunjukkan bahwa gangguan tidur seperti OSA tidak hanya memengaruhi rasa segar saat bangun, tetapi juga berdampak pada kesehatan jangka panjang. OSA dikaitkan dengan tekanan darah tinggi, gangguan jantung, stroke, dan gangguan metabolik seperti diabetes.
Hal ini terjadi karena tubuh mengalami kekurangan oksigen berulang saat tidur, sehingga berada dalam kondisi stres setiap malam meskipun tampak “tidur”.
Siapa yang Perlu Lebih Waspada
Tidur tidak sehat dapat dialami siapa saja, tetapi risiko lebih tinggi pada orang dengan berat badan berlebih, leher besar, struktur rahang tertentu, serta kebiasaan tidur terlentang. Pria, usia lanjut, dan individu dengan riwayat keluarga gangguan tidur juga memiliki risiko lebih besar.
Namun penting dipahami bahwa orang dengan tubuh kurus pun bisa mengalami gangguan napas saat tidur.
Kapan Perlu Memeriksakan Tidur
Bila kamu sering merasa tidak segar saat bangun, mengantuk di siang hari, sulit berkonsentrasi, atau mendapat keluhan dari pasangan tentang mengorok dan napas saat tidur, pemeriksaan tidur patut dipertimbangkan.
Evaluasi gangguan tidur membantu menilai apakah tidurmu benar-benar sehat atau memerlukan penanganan lebih lanjut. Informasi mengenai skrining dan pemeriksaan tidur dapat diakses melalui website atau kontak WhatsApp kami.
Referensi
Slowik, J.M., Sankari, A. and Collen, J.F. (2025). Obstructive Sleep Apnea. StatPearls Publishing.
Abbasi, A. et al. (2021). A comprehensive review of obstructive sleep apnea. Sleep Science, 14(2), 142–154.