Deteksi Dini HPV = Hidup Tenang di Masa Depan
HPV DNA test adalah pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi material genetik (DNA) dari Human Papillomavirus (HPV) di sel serviks (leher rahim). Metode ini mencari apakah virus HPV terutama tipe‑tipe yang “risiko tinggi” sedang menginfeksi, sehingga memungkinkan deteksi dini infeksi sebelum muncul perubahan sel yang bisa berkembang menjadi kanker. HPV DNA test bukan tes seluler seperti Pap smear; melainkan tes molekuler yang mendeteksi virus secara langsung.
Mengapa HPV DNA Test Penting?
- Deteksi Dini Infeksi HPV — Sebelum Sel Berubah
Infeksi HPV bisa terjadi tanpa gejala. Dengan DNA test, kita bisa tahu sejak awal kalau ada virus, sebelum muncul kelainan sel — ini memungkinkan pencegahan lebih efektif.
- Sensitivitas Tinggi — Lebih Andal dari Metode Lama
Meta‑analisis besar menunjukkan bahwa HPV DNA testing memiliki sensitivitas sangat tinggi (~ 97.5%) untuk mendeteksi lesi serviks berat (CIN 3 atau lebih) dibanding sitologi (Pap smear) atau pemeriksaan visual.
- Interval Skrining Bisa Lebih Jauh — Praktis & Efisien
Karena sensitivitas tinggi dan nilai prediktif negatif kuat, wanita dengan hasil negatif bisa melakukan skrining lagi setelah interval yang lebih panjang (misalnya 5–10 tahun sesuai pedoman) — mengurangi frekuensi tes tanpa mengorbankan keamanan.
Kapan Sebaiknya Dilakukan Tes HPV DNA?
Tes HPV DNA adalah pemeriksaan untuk mendeteksi virus HPV yang bisa menyebabkan kanker serviks. Waktu yang tepat melakukan tes ini penting agar deteksi dini lebih efektif.
Beberapa kondisi saat tes HPV DNA dianjurkan:
- Wanita usia ≥ 30 tahun → skrining rutin untuk deteksi dini.
- Memiliki faktor risiko tinggi, misalnya sistem imun lemah, riwayat infeksi HPV (kutil kelamin atau terpapar varian HPV yang lain), merokok, atau hubungan seksual di usia muda/berganti pasangan.
- Hasil Pap smear abnormal → sebagai pemeriksaan lanjutan untuk memastikan penyebab perubahan sel.
- Hasil tes negatif sebelumnya → ulangi skrining setiap 5 tahun.
- Hasil tes positif → perlu pemeriksaan lebih lanjut seperti sitologi atau kolposkopi.
Persiapan yang Direkomendasikan Sebelum HPV DNA Test
- Hindari hubungan seksual 24–48 jam sebelum pemeriksaan
- Jangan melakukan douching (pembersihan vagina dalam), atau memakai krim/obat/produk vagina minimal 1–2 hari sebelum pemeriksaan.
- Hindari penggunaan tampon atau alat masuk ke vagina sebelum pemeriksaan.
- Jangan menjalani pemeriksaan saat menstruasi — sebaiknya jadwalkan saat tidak sedang haid agar sampel tidak terkontaminasi darah.
Prosedur tes DNA HPV
- Prosedur tes DNA HPV relatif sederhana dan mirip dengan pemeriksaan Pap smear. Dokter akan mengambil sampel sel dari serviks menggunakan sikat kecil atau spatula.
- Sampel urine pancaran pertama juga dapat digunakan sebagai sampel alternatif jika serviks sampling sulit dilakukan.
- Sampel ini kemudian akan dikirim ke laboratorium untuk dianalisis DNA-nya. Proses analisis ini akan mendeteksi keberadaan virus HPV dan menentukan jenis HPV yang ada.
Risiko dan Keterbatasan Tes HPV DNA
Walaupun HPV DNA adalah tes yang sangat bermanfaat, ada beberapa keterbatasan:
- Tes bisa menunjukkan hasil positif meskipun infeksi HPV dapat hilang dengan sendirinya.
- Tidak semua hasil positif berarti seseorang akan mengalami kanker serviks.
- Beberapa infeksi HPV risiko rendah tidak terdeteksi dengan tes ini.
Meski begitu, manfaat pemeriksaan jauh lebih besar karena mampu memberikan gambaran risiko kesehatan lebih awal.
REFERENCES
Kemenkes. 2023. Kanker Serviks, Bisa Dicegah, Bisa Dieliminasi.
Kemenkes. 2023. HPV DNA untuk Deteksi Dini Kanker Serviks
Wibawa, B. W., Lestari, R. H., & Prasetyo, D. S. (2024). Perbandingan HPV DNA Test Hybrid Capture dan Pap Smear untuk Diagnosis Dini Karsinoma Serviks. eJournal Kedokteran Indonesia, 12(2), 187-187.