Makanan Cepat, Risiko Cepat: Mengapa Obesitas Semakin Meningkat di Generasi Masa Kini?

Di era serba cepat seperti sekarang, makanan bukan lagi sekadar kebutuhan, tetapi telah menjadi bagian dari gaya hidup yang menuntut kepraktisan dan kecepatan. Restoran cepat saji, minuman manis siap ambil, hingga camilan kemasan yang selalu tersedia di setiap sudut kota kini menjadi pilihan utama banyak orang, terutama generasi muda yang hidup dalam ritme aktivitas yang padat. Namun di balik kemudahan tersebut, tersembunyi risiko kesehatan yang semakin nyata: peningkatan obesitas dalam skala global. Obesitas merupakan ketidakseimbangan asupan energi (energi intake) dengan energi yang digunakan (energi expenditure), ditandai dengan adanya penumpukkan lemak yang abnormal. World Health Organization (WHO) menyatakan angka kelebihan berat badan dan obesitas terus meningkat pada orang dewasa dan anak-anak. Dari tahun 1990 hingga 2022, persentase anak-anak dan remaja usia 5–19 tahun yang hidup dengan obesitas meningkat empat kali lipat dari 2% menjadi 8% secara global, sementara persentase orang dewasa berusia 18 tahun ke atas yang hidup dengan obesitas lebih dari dua kali lipat dari 7% menjadi 16%.

Penyebab obesitas

Obesitas terjadi ketika seseorang mengonsumsi makanan dan minuman tinggi kalori dalam jangka panjang tanpa diimbangi dengan aktivitas fisik. Selain itu, ada faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan obesitas, yaitu:

  • Pola makan tinggi karbohidrat dan lemak, misalnya sering mengonsumsi makanan cepat saji dan minuman yang mengandung gula.
  • Kelainan bawaan, seperti sindrom Prader-Willi.
  • Konsumsi obat-obatan tertentu yang dapat memicu kenaikan berat badan, seperti : obat anti-depresan, anti-psikotik, anti-konvulsan, kortikosteroid, atau obat penghambat beta.
  • Perubahan suasana hati yang dapat meningkatkan nafsu makan, misalnya : sedih, stres, atau marah.
  • Gangguan tidur sehingga meningkatkan produksi hormon ghrelin yang berfungsi untuk merangsang nafsu makan.
  • Pertambahan usia yang memicu perubahan hormon dan kebutuhan tubuh terhadap kalori.
  • Pertambahan berat badan pada ibu hamil.
  • Kondisi medis tertentu, seperti : hipotiroid, sindrom Cushing, dan Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS).

Dampak obesitas bagi Kesehatan tubuh antara lain :

  • Diabetes mellitus tipe 2
  • Hipertensi
  • Jantung koroner
  • Stroke
  • Sleep Apnea dan Gangguan Pernapasan
  • Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS)
  • Nyeri Lutut dan Osteoartritis
  • Penyakit Hati Berlemak Non-Alkohol (NAFLD)

Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan untuk pencegahan dari obesitas yaitu :

  1. Pemeriksaan gula darah : GDP, GD2JPP, HbA1c
  2. Pemeriksaan profil lipid : Kolesterol, Trigliserida, HDL, LDL
  3. Pemeriksaan fungsi hati : SGOT dan SGPT
  4. Pemeriksaan fungsi ginjal : Ureum, Kreatinin, e-GFR, Asam urat, BUN
  5. Pemeriksaan hormon : TSH, FT4, FSH, LH Progesteron atau Testosteron
  6. Pemeriksaan vitamin D

Untuk mencegah obesitas di era sekarang ini, hal yang dapat dilakukan antara lain :

  1. Pola Makan Sehat

Mengurangi makanan cepat saji dan minuman tinggi gula menjadi sangat penting karena jenis makanan ini tinggi kalori namun rendah nilai gizi serta memperhatikan porsi makan dan frekuensi konsumsi camilan juga membantu menjaga keseimbangan energi harian.

  1. Aktivitas fisik

Aktivitas fisik yang cukup dapat membantu membakar kalori, meningkatkan metabolisme, dan menjaga kesehatan jantung. WHO merekomendasikan remaja melakukan setidaknya 60 menit aktivitas fisik moderat hingga berat setiap hari, termasuk olahraga aerobik seperti berlari, bersepeda, berenang, atau bermain olahraga tim. Aktivitas fisik juga dapat mengurangi stres, meningkatkan kebugaran mental, dan membangun kebiasaan sehat yang bertahan hingga dewasa.

  1. Mengurangi screen time

Penggunaan gadget, televisi, dan komputer yang berlebihan dapat memicu gaya hidup sedentari dan meningkatkan risiko obesitas. Screen time yang tinggi berkorelasi dengan peningkatan kebiasaan ngemil, paparan iklan makanan cepat saji, serta gangguan tidur. Remaja disarankan membatasi screen time hiburan hingga maksimal 2 jam per hari, serta menghindari ngemil saat menonton atau bermain gadget.

  1. Pola tidur

Tidur yang cukup berperan dalam regulasi hormon yang mengatur nafsu makan, yaitu leptin dan ghrelin. Kurang tidur dapat meningkatkan keinginan mengonsumsi makanan tinggi kalori dan gula, sehingga memicu obesitas. Remaja dianjurkan tidur antara 8–10 jam per malam, dengan jadwal tidur yang konsisten untuk mendukung metabolisme optimal.

  1. Manajemen Stres dan Kesehatan Mental

Stres, tekanan akademik, dan ekspektasi sosial dapat memicu emotional eating, yaitu kebiasaan makan berlebihan sebagai cara mengatasi emosi negatif. Teknik manajemen stres seperti meditasi, olahraga, hobi, atau konseling psikologis dapat membantu mengurangi risiko ini. Dukungan keluarga dan sekolah juga berperan penting dalam menjaga kesejahteraan mental dan mencegah obesitas akibat stress.

 

REFERENCES

Kurdanti, W. et al. (2015) Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kejadian Obesitas pada Remaja. Jurnal Gizi Klinik, Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.

Fang, K., Mu, M., Liu, K. and He, Y. (2019) ‘Screen time and childhood overweight/obesity: A systematic review and meta-analysis’, Child: Care, Health and Development, 45(5), pp. 744–753.

Fitriani, U.A. and Soviana, S.E. (2024) Hubungan Tingkat Konsumsi Minuman Berpemanis dan Aktivitas Fisik dengan Status Gizi pada Remaja Kelas XII di SMA N 2 Sukoharjo. Doctoral thesis. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes). (2022) Obesitas. Available at: https://kesmas.kemkes.go.id/view_artikel/429/obesitas

World Health Organization (WHO). Obesity. Available at: https://www.who.int/health-topics/obesity

Apakah informasi ini bermanfaat?
YaTidak
  • PreviGEN
  • Layanan
  • Promo
  • #BerdayaCegahHPV