Berat Badan Sulit Turun: Apa Peran Gen dan Tes DNA?

Sudah berusaha mengatur makan dan rutin bergerak, tetapi berat badan belum banyak berubah? Atau berat badan sempat turun, lalu perlahan naik kembali?
Berat badan dipengaruhi banyak hal, termasuk kebiasaan sehari-hari, kondisi kesehatan, dan faktor genetik. Karena itu, memahami penyebabnya dapat membantu Anda menyusun langkah yang lebih sesuai dengan kebutuhan tubuh.[1,2]
Tes DNA untuk nutrisi dapat memberikan informasi tambahan tentang variasi genetik tertentu. Agar bermakna, hasilnya perlu dibahas bersama riwayat kesehatan, pola makan, dan aktivitas Anda.
Bagaimana Gen Memengaruhi Berat Badan?
Gen membawa informasi biologis yang diwariskan dari orang tua. Sebagian variasi gen berkaitan dengan pengaturan nafsu makan, rasa kenyang, dan penyimpanan lemak.[1,2]
Pada kebanyakan orang, kecenderungan mengalami obesitas melibatkan banyak variasi gen, masing-masing dengan pengaruh kecil. Pengaruh tersebut berinteraksi dengan lingkungan dan kebiasaan sehari-hari.[1]
Itulah sebabnya, memahami berat badan membutuhkan penilaian menyeluruh. Memiliki kecenderungan genetik terhadap obesitas tidak berarti upaya mengelola berat badan menjadi sia-sia. Faktor genetik merupakan salah satu bagian dari gambaran kesehatan Anda.[1,2]
Lima Hal yang Perlu Dievaluasi Ketika Berat Badan Sulit Turun?
1. Pola makan yang belum sesuai kebutuhan
Makanan dan minuman yang dikonsumsi memengaruhi asupan energi harian. Porsi, pilihan makanan, dan minuman tinggi gula perlu diperhatikan saat mengevaluasi perubahan berat badan.[2]
Daripada terus berganti diet, mulailah dengan pola makan sehat yang sesuai kebutuhan dan dapat dipertahankan. Catatan makan dapat menjadi bahan diskusi saat konsultasi.[4]
2. Kurang bergerak dalam keseharian
Lebih aktif bergerak dapat menjadi langkah penting dalam mengelola berat badan. Penelitian tahun 2022 pada 33.731 orang dewasa di Taiwan, dengan pengamatan rata-rata sekitar empat tahun, menemukan bahwa lebih banyak waktu untuk aktivitas seperti jalan cepat, bersepeda, dan joging berkaitan dengan indeks massa tubuh, persentase lemak tubuh, serta lingkar pinggang yang lebih rendah.[3]
Hasil penelitian ini mendukung pentingnya aktivitas fisik dalam pengelolaan berat badan.[3]
Anda bisa memulai dari aktivitas yang disukai dan mudah dilakukan secara rutin. Tingkatkan secara bertahap sesuai kemampuan dan kondisi kesehatan.
3. Tidur yang belum cukup
Tidur juga perlu mendapat perhatian. Kurang tidur dapat membuat seseorang lebih mudah merasa lapar, mengonsumsi lebih banyak kalori, dan memilih makanan yang kurang sehat.[2]
Saat mengevaluasi berat badan, perhatikan pula kebiasaan tidur Anda: apakah waktunya cukup, teratur, dan memungkinkan tubuh beristirahat dengan baik?
4. Kondisi kesehatan dan obat-obatan
Beberapa kondisi kesehatan, termasuk hipotiroid dan sindrom ovarium polikistik atau PCOS, dapat berkaitan dengan kenaikan berat badan. Kortikosteroid dan sebagian obat untuk gangguan kejiwaan juga dapat berkontribusi.[2]
Sampaikan keluhan dan seluruh obat rutin saat berkonsultasi. Jangan menghentikan obat sendiri. Dokter akan menentukan apakah diperlukan pemeriksaan tambahan berdasarkan riwayat dan hasil pemeriksaan Anda.
5. Kebutuhan tubuh berubah setelah berat badan turun
Setelah berat badan turun, tubuh membutuhkan lebih sedikit energi. Perubahan metabolisme dan hormon juga dapat membuat mempertahankan hasil menjadi lebih menantang.[4]
Karena itu, pengelolaan berat badan perlu mencakup rencana pemeliharaan. Pola makan, aktivitas, dan perkembangan berat badan dapat dievaluasi kembali agar tetap sesuai dengan kebutuhan Anda.[4]
Apa itu Tes DNA untuk Nutrisi?
Tes DNA untuk nutrisi memeriksa variasi gen tertentu yang berkaitan dengan aspek nutrisi atau metabolisme. Dalam penelitian, informasi genetik digunakan sebagai salah satu pendekatan untuk menyusun anjuran nutrisi yang lebih personal.[5]
Setiap panel tes DNA memiliki fokus pemeriksaan yang berbeda. Melalui konsultasi, Anda dapat mengenal pilihan tes yang sesuai dengan informasi dan tujuan kesehatan yang ingin Anda pahami, termasuk:
- Variasi gen yang diperiksa dan kaitannya dengan nutrisi.
- Informasi yang dapat diperoleh dari hasil tes.
- Bagaimana hasil tersebut dapat dipertimbangkan dalam pengelolaan kesehatan Anda.
Hasil tes akan lebih bermakna ketika dipahami bersama pola makan, kebiasaan sehari-hari, dan kondisi kesehatan Anda. Konsultasi membantu menghubungkan informasi tersebut dengan langkah yang relevan bagi kebutuhan Anda.
Apa Manfaat Tes Genetik dalam Pengelolaan Berat badan?
Tes genetik memberikan informasi tambahan untuk membantu Anda lebih mengenal kecenderungan genetik yang berkaitan dengan nutrisi. Informasi ini dapat melengkapi pemahaman tentang tubuh Anda saat merencanakan pengelolaan berat badan.[5]
Melalui konsultasi, dokter dapat menjelaskan makna hasil pemeriksaan dan menghubungkannya dengan pola makan, aktivitas, riwayat kesehatan, serta tujuan yang ingin Anda capai. Informasi yang diperoleh bergantung pada cakupan panel tes yang dipilih.
Hasil tes menjadi bagian dari pendekatan yang menyeluruh dan personal. Keberhasilan pengelolaan berat badan juga dipengaruhi oleh kesesuaian pola makan dengan kebutuhan tubuh, aktivitas fisik, tidur, kondisi kesehatan, serta konsistensi menjalankan kebiasaan sehat.[2,4,5]
Gunakan hasil tes sebagai informasi untuk memahami tubuh dan mendiskusikan pilihan kesehatan, dengan harapan yang realistis terhadap hasilnya.
Siapa yang Dapat Mempertimbangkan Konsultasi Tes DNA?
Konsultasi dapat dipertimbangkan jika Anda ingin memahami informasi genetik terkait nutrisi atau memiliki pertanyaan mengenai kecenderungan berat badan dalam keluarga.
Sebelum memutuskan tes, jelaskan tujuan Anda. Apakah ingin memahami kecenderungan tertentu, meninjau upaya pengelolaan berat badan, atau mengetahui informasi apa yang bisa diberikan oleh panel pemeriksaan?
Dokter dapat membantu menilai kesesuaian pemeriksaan tersebut. Anda juga dapat menanyakan biaya keseluruhan, konsultasi hasil, serta kebijakan penyimpanan dan penggunaan data genetik.
Mulai dengan memahami kebutuhan tubuh Anda
Berat badan yang sulit turun layak dievaluasi secara menyeluruh. Riwayat perubahan berat badan, pola makan, aktivitas, tidur, serta obat rutin merupakan bahan awal yang berguna untuk konsultasi.
Jika tertarik dengan tes DNA untuk nutrisi, tanyakan bagaimana cakupan pemeriksaan dan hasilnya dapat dikaitkan dengan kebutuhan Anda.
Ingin mengenal pilihan tes genetik di Klinik Previ?
Pelajari layanan tes genetik Klinik Previ dan diskusikan pemeriksaan yang sesuai dengan tujuan kesehatan Anda.
Pertanyaan yang sering diajukan
- Apakah orang tua dengan obesitas berarti anaknya pasti mengalami obesitas?
Tidak. Riwayat keluarga berkaitan dengan kecenderungan berat badan, tetapi kebiasaan dan lingkungan juga berperan.[1,2] - Bagaimana tes DNA dapat membantu program diet Anda?
Tes DNA dapat memberikan informasi tambahan tentang kecenderungan genetik terkait nutrisi untuk dibahas dalam penyusunan rencana diet. Keberhasilan diet dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kesesuaian pola makan dengan kebutuhan tubuh, aktivitas fisik, tidur, kondisi kesehatan, serta konsistensi menjalankannya.[2,4,5] - Apakah harus tes DNA sebelum memulai program penurunan berat badan?
Tidak harus. Evaluasi kesehatan serta perbaikan pola makan, aktivitas, dan tidur dapat dimulai tanpa menunggu tes DNA.
Artikel ini merupakan informasi kesehatan umum. Pemilihan pemeriksaan dan penanganan disesuaikan melalui konsultasi.
Referensi
- Loos RJF, Yeo GSH. The genetics of obesity: from discovery to biology. Nature Reviews Genetics. 2022;23:120–133. Teks lengkap.
- National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Factors Affecting Weight & Health. Ditinjau Mei 2023. Sumber resmi.
- Lin WY. The most effective exercise to prevent obesity: A longitudinal study of 33,731 Taiwan biobank participants. Frontiers in Nutrition. 2022;9:944028. Teks lengkap.
- National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Eating & Physical Activity to Lose or Maintain Weight. Sumber resmi.
- Martinsen T, Brennan L. Key evidence for personalised nutrition: a review of randomised controlled trials. Food & Function. 2026;17(2):646–658. PubMed. doi:10.1039/D5FO02969D.